Hujan Es Pernah Menghantam Indonesia: Kenapa Bongkahan Es Bisa Jatuh di Negara Tropis?
Kalau dengar kata hujan es, yang kebayang biasanya negara yang punya musim dingin atau salju. Tapi jangan salah, Indonesia yang panas dan berada di garis khatulistiwa juga pernah dihantam bongkahan es dari langit. Fenomena ini namanya hujan es atau hail, dan secara ilmiah bukan sesuatu yang aneh untuk negara tropis. Bahkan BMKG mencatat kejadian hujan es pernah muncul di berbagai wilayah Indonesia dan biasanya berlangsung cuma beberapa menit.
Ada beberapa hal unik yang bikin fenomena ini bisa terjadi:
- Esnya lahir jauh di atas kepala kita. Hujan es terbentuk di dalam awan Cumulonimbus, bukan karena suhu permukaan Indonesia tiba-tiba berubah jadi dingin. Awan ini bisa tumbuh sangat tinggi hingga mencapai lapisan atmosfer dengan suhu di bawah titik beku.
- Indonesia panas justru bisa membantu prosesnya. Matahari yang kuat membuat udara hangat dan lembap bergerak naik dengan cepat. Arus naik yang disebut updraft ini dapat mendorong tetesan air semakin tinggi ke bagian awan yang sangat dingin.
- Ada air yang tetap cair meski suhunya di bawah nol. Di bagian atas awan, terdapat tetesan air superdingin atau supercooled water. Ketika bertemu kristal es atau partikel tertentu, tetesan tersebut dapat membeku dan menjadi inti butiran es.
- Bongkahan es bisa “naik-turun” di dalam awan. Updraft yang kuat dapat menahan dan mengangkat butiran es berkali-kali. Setiap perjalanan membuat lapisan es baru menempel sehingga ukurannya semakin besar. Ketika beratnya sudah mengalahkan kekuatan arus udara, es akhirnya jatuh.
- Pancaroba adalah salah satu momen yang patut diperhatikan. Peralihan musim dapat menghadirkan atmosfer yang sangat tidak stabil dan memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus. Karena itu, hujan es sering muncul bersama hujan deras, petir, dan angin kencang.
Yang menarik, hujan es di Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan suhu permukaan yang mendekati titik beku. Kuncinya justru ada di ketinggian awan dan dinamika udara di dalamnya. Contohnya, pada kejadian di Kayu Aro, Kerinci, Jambi, 20 Agustus 2026, BMKG menemukan awan konvektif dengan suhu puncak sekitar -48°C hingga -13°C, disertai kondisi atmosfer tidak stabil, kelembapan tinggi, serta konvergensi dan belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan. Jadi, meskipun orang di bawahnya sedang merasakan udara tropis, beberapa kilometer di atas sana kondisinya bisa sangat dingin. Bahkan dalam kondisi tertentu, butiran es dapat berukuran cukup besar dan jatuh sebelum sempat mencair seluruhnya saat melewati lapisan udara yang lebih hangat.
Jadi, kalau suatu sore langit tiba-tiba gelap, awan menjulang seperti kembang kol, angin mendadak kencang, lalu terdengar suara benda kecil menghantam atap, jangan langsung mikir Indonesia mendadak punya musim dingin. Bisa jadi kita sedang melihat salah satu aksi ekstrem dari awan Cumulonimbus.