Di Bawah Tanah Pulau Rote, Peneliti Menemukan Jejak Kehidupan yang Bisa Membuka Cerita Baru Nusantara
Kalau biasanya Pulau Rote dikenal karena pantai, laut, dan budayanya, ternyata bagian bawah tanahnya juga punya cerita yang nggak kalah menarik. Di balik gua dan ceruk batu kapur, peneliti menemukan jejak aktivitas manusia purba yang membantu mengisi potongan puzzle tentang perjalanan manusia di kawasan Nusantara. Penelitian arkeologi di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, bahkan menunjukkan bahwa sejumlah gua pernah digunakan manusia sejak akhir Pleistosen hingga Holosen.
Beberapa fakta unik dari dunia bawah tanah Pulau Rote:
• Jejak manusia bisa berusia ribuan hingga puluhan ribu tahun
Survei dan penelitian terbaru menggunakan metode seperti ground-penetrating radar (GPR), pengeboran sedimen, analisis artefak, serta penanggalan untuk melihat lapisan yang tersembunyi tanpa harus langsung menggali besar-besaran. Pada sejumlah situs di Rote, metode tersebut berhasil menunjukkan adanya deposit arkeologis dan indikasi hunian yang usianya dapat mencapai sekitar 30.000 tahun.
• Gua bukan cuma tempat berteduh
Temuan di gua-gua Rote mencakup serpihan dan bilah batu, pecahan tembikar, manik-manik dari cangkang, sisa fauna, serta cangkang moluska. Artinya, tempat ini kemungkinan bukan sekadar lokasi singgah, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas sehari-hari manusia masa lalu.
• Sisa makanan ternyata bisa jadi “rekaman” kehidupan
Cangkang siput dan kerang yang menumpuk di lapisan tanah memberikan petunjuk mengenai apa yang dimakan manusia masa lalu. Beberapa temuan bahkan menunjukkan jenis moluska laut yang berkaitan dengan lingkungan pantai, terumbu karang, dan perairan pesisir. Jadi, dari sampah makanan ribuan tahun lalu saja, peneliti bisa mendapatkan gambaran tentang hubungan manusia dengan lingkungan.
• Posisi Rote bikin ceritanya makin menarik
Rote berada di kawasan Wallacea, wilayah yang secara geografis penting dalam pembahasan perpindahan manusia antara Asia dan Australia. Karena itu, jejak arkeologi di pulau ini bisa membantu ilmuwan memahami bagaimana manusia purba bergerak, beradaptasi, dan memanfaatkan sumber daya di kawasan timur Indonesia.
• Yang bikin penasaran: belum ditemukan tulang manusia di beberapa situs utama
Penelitian pada gua Mbia Hudale, Bafak, dan Bote menemukan banyak bukti aktivitas manusia, tetapi tidak menemukan tulang manusia. Kondisi ini justru membuat situs tersebut semakin menarik karena peneliti harus menyusun cerita kehidupan masa lalu dari artefak, sisa makanan, fauna, dan lapisan tanah.
Yang menarik, penelitian bawah tanah di Rote bukan sekadar soal menemukan benda kuno. Setiap serpihan batu, cangkang, potongan tulang fauna, atau lapisan sedimen bisa menjadi petunjuk kecil tentang bagaimana manusia hidup ribuan tahun lalu. Penelitian terbaru bahkan menemukan 26 gua dan ceruk batu selama survei, dengan 13 di antaranya memiliki bukti permukaan berupa artefak batu, sisa laut, tembikar, atau kondisi yang memungkinkan pernah dihuni manusia. Jadi, bisa saja cerita besar tentang migrasi manusia di Nusantara ternyata masih tersimpan di tempat-tempat yang selama ini terlihat seperti gua biasa.
Pada akhirnya, Pulau Rote menunjukkan bahwa sejarah Nusantara nggak selalu tersimpan di museum atau prasasti. Kadang, ceritanya justru terkubur diam-diam di bawah lapisan tanah sebuah gua. Dan semakin dalam peneliti menggali, semakin banyak kemungkinan baru tentang siapa yang pernah datang, hidup, dan beradaptasi di wilayah ini.